Nenek 85tahun tertabrak. Kereta di Grobogan

Seorang nenek berusia 85 tahun tewas setelah tertabrak oleh kereta api di Grobogan. Sebelum kejadian, sang masinis KA Ambarawa Ekspres telah membunyikan klakson beberapa kali. Ngasiem, nenek berusia 83 tahun tewas tertabrak KA Ambarawa Ekspres, di rel perlintasan wilayah Desa Boloh, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Rabu (17/5/2023) sore.

Namun, diduga ada gangguan pada fungsi pendengaran sehingga nenek tersebut mengabaikan bunyi klakson tersebut. Ngasiem, petani renta asal Desa Jatiharjo, tewas tertabrak KA Ambarawa Ekspres di rel perlintasan wilayah Desa Boloh. Berdasarkan keterangan saksi, tubuh korban sempat terseret KA hingga sejauh 500 meter.

Korban meninggal di lokasi kejadian. Keluarga korban memberikan keterangan bahwa korban selama ini pikun dan sering keluar rumah tanpa pamit.
Nenek berusia 85 Tahun Tewas Tertabrak Kereta Api di Grobogan, Tubuh Terseret Hingga 500 Meter

Innalillahi, seorang nenek warga Kabupaten Grobogan tewas seusai tertabrak kereta api.

Sebelum kejadian, sang masinis KA Ambarawa Ekspres tersebut sebenarnya telah membunyikan beberapa kali klakson.

Namun dimungkinkan ada gangguan pada fungsi pendengaran sehingga nenek tersebut mengabaikan bunyi klakson kereta api.

Kapolsek Toroh, AKP Saptono Widyo mengatakan, korban tertemper KA Ambarawa Ekspres yang melaju dari arah timur, Stasiun Surabaya Pasarturi (SBI) menuju Stasiun Semarang Poncol (SMC), tepatnya di Km 14+100, Dusun Kaluwan, Desa Boloh.

Berdasarkan keterangan saksi, tubuh petani renta asal Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan itu sempat terseret KA hingga sejauh 500 meter.

“Korban masih menempel pada kereta api bagian depan, kemudian karena masinis mengetahui kejadian tersebut lalu berupaya berhenti dan turun mengevakuasi korban dibantu oleh warga,” kata AKP Saptono.

Menurut AKP Saptono, jasad korban kemudian dievakuasi warga menjauh ke pinggir rel perlintasan KA. Selanjutnya digelar pemeriksaan medis oleh tim Inafis Polres Grobogan dan Puskesmas Toroh.

Jasad korban kemudian diangkut mobil ambulans Palang Merah Indonesia (PMI) menuju rumah duka. “Tidak ada tanda kekerasan dan jenazah diserahkan keluarga untuk dimakamkan.” “Menurut keterangan keluarga, korban selama ini pikun dan sering keluar rumah tanpa pamit,” pungkas AKP Saptono.

Loading

Leave Your Comment