Revolusi Visual: Video Mapping dan Transformasi Objek 3D di Jogja

Revolusi Visual Video Mapping dan Transformasi Objek 3D di Jogja

Hujan gerimis tidak mampu meredam semangat ratusan masyarakat yang antusias berkumpul di kawasan Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta pada malam Jumat (1/12/2023) untuk menyaksikan festival video mapping dan seni cahaya berjudul ‘Sumonar 2023’.

Salah satu penonton acara ini adalah Ibnu (16) dan teman-temannya, Sabtu sore (2/12) sejak pukul 18.00 WIB telah berusaha menemukan posisi terbaik untuk merekam video mapping karya seniman-seniman tersebut. Saksikan acara hingga jam 21.00, acara ini ramai sekali hingga saat mau balik jalan juga padat. “Iya, sengaja nyempetin waktu buat foto dan rekam record momen setahun sekali ini. Meski diguyur gerimis, rasanya puas banget liat karya-karya seniman cahaya,” ungkapnya.

Pada tahun ini, Sumonar tetap menggunakan Gedung BNI di kawasan Nol Kilometer sebagai lokasi presentasi karya seni cahaya dari sembilan seniman yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari DI Yogyakarta, Bandung, hingga Bali.

Sembilan seniman yang mempersembahkan karya seni cahayanya termasuk Amaya Madrigal, Angel Sandimas, Ari Dykier, Cutemonster by Nindhita, Fanikini, Furyco, Hendry Prasetya, Indieguerillas, Jonas Sestakresna, Kevin Rajabuan, Rodar Studio, dan Studio Gambar Gerak.

Selain itu, terdapat satu karya video mapping hasil dari Program Workshop Video Mapping yang diadakan beberapa hari sebelumnya.

Raphael Donny, Direktur Sumonar 2023, menjelaskan bahwa pertunjukan utama video mapping di Gedung BNI di Kawasan Nol Kilometer Kota Yogyakarta akan berlangsung dari 1-3 Desember 2023.

“Pertunjukan utama Video Mapping Performance dapat dinikmati mulai pukul 18.30 WIB dan terbuka untuk umum tanpa biaya,” tambah Donny.

Donny menyatakan bahwa lokasi tersebut dipilih karena memiliki latar belakang heritage dan menjadi pembeda acara Sumonar tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Sumonar 2023, yang diinisiasi oleh Jogja Video Mapping Project (JVMP) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, juga diselenggarakan di Museum Affandi dari tanggal 25 November hingga 5 Desember 2023, menampilkan berbagai macam karya, termasuk seni instalasi cahaya dan karya dua dimensi dari seniman rupa Indonesia.

Tema Sumonar tahun ini adalah ‘Being as Such’, dengan atraksi berupa permainan seni cahaya yang menyajikan karya maestro Indonesia, seperti Affandi dan Sudjojono. Museum Affandi dipilih sebagai ruang presentasi utama untuk mengaktualisasi dan memberi makna kembali pemikiran para maestro seni Tanah Air.

Dian Laksmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, berharap bahwa Sumonar tidak hanya mendekatkan museum kepada masyarakat tetapi juga menjadi cara baru untuk mengenalkan karya para maestro seni secara lebih dekat.

Sumonar merupakan festival seni cahaya yang dinantikan dan dianggap sebagai salah satu festival yang menguatkan inovasi melalui pemanfaatan teknologi informasi (IT). Pemda DIY, melalui Disbud, selalu memberikan dukungan penuh untuk penyelenggaraan acara ini, sejalan dengan Visi Misi Gubernur DIY dalam inovasi dan pemanfaatan IT.

“Gelaran Sumonar 2023 menjadi istimewa karena berani mengambil tantangan baru dengan diselenggarakan di Museum Affandi. Kami berusaha mendekatkan museum bukan hanya kepada masyarakat, tetapi juga ke berbagai sektor seni dan media untuk menjadi bagian dari promosi bersama,” kata Dian.

Dia berharap agar Sumonar dapat menjadi festival seni cahaya bergengsi yang dikenal secara luas. Titik-titik pertunjukan Sumonar juga melibatkan obyek-obyek kebudayaan, termasuk bangunan bersejarah, sehingga dapat mendukung festival tersebut secara kultural.

“Festival ini diharapkan memiliki dampak luas, mengembangkan ekosistem seni cahaya di DIY, dan menjadi barometer bagi Indonesia. Semoga seni cahaya ini mampu menjadi sumber energi untuk merefleksikan, menggali nilai budaya, meningkatkan inovasi seni, dan menjadi pencerah bagi Yogyakarta yang kental dengan gaung budayanya,” harap Dian.

Sementara itu, Ignatia Nilu, Kurator Sumonar 2023, berharap dapat menjelajahi masa lalu menuju masa transisi politik 2024. Dia menekankan pentingnya sejarah dalam membangun kesadaran bersama atau tujuan bersama. Transisi politik diartikan sebagai refleksi masa depan yang dapat dilihat melalui lensa sejarah.

“Melalui seni rupa Indonesia, kita mencoba menggali identitas bangsa. Jejak sejarah ini kami telusuri melalui karya para maestro seni rupa Indonesia,” tambahnya.

Loading

Leave Your Comment